|
ASSET termahal dan paling dirindukan oleh setiap insan, kapan dan dimanapun ialah ketenangan batin, Di Amerika negara adidaya, negeri yang penuh dengan orang-orang kaya, cerdik pandai, ternyata kian hari kian banyak yang bunuh diri. Disana lebih banyak orang masuk ke Rumah Sakit Jiwa dari pada yang masuk ke Perguruan Tinggi. Kenapa mereka bunuh diri ? Karena jiwanya atau batinnya tidak tenang. Dalam zaman jahiliah yang keadaan masyarakatnya jauh lebih buruk dari sekarang ini, maka Allah SWT.mengutus Nabi Muhammad SAW. sebagai Rasul-Nya. Institusi pertama yang beliau dirikan ialah Mesjid. Tempat untuk manusia membersihkan, melembutkan dan menenangkan batinnya, membebaskan diri dari ikatan dunia melalui berbagai jenis ibadah ritual. Ahli hikmah mengatakan ; "Mustakhil orang bisa masuk ke dalam sorga di akhirat, kalau di dunia ini ia tidak merasakan sorga dunia". Apa yang dimaksud sorga dunia? "Yaitu ketenangan batin". Rasulullah SAW.bersabda : "Yang dimaksud dengan kekayaan sebenarnya bukan semata-mata banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati ialah ketengan batin". Pada waktu sakratul maut orang yang dipanggil Allah dengan lembut dan penuh kasih sayang, ialah mereka yang batinnya tenang. Firman Allah SWT : "HAI JIWA YANG TENANG, KEMBALILAH PADA TUHANMU DENGAN HATI YANG PUAS LAGI DI REDHAINYA. MAKA MASUKLAH KE DALAM JEMAAH HAMBA -HAMBAKU. DAN MASUKLAH KE DALAM SURGAKU" (QS.AL Fajar 27-30). Orang yang batinnya tenang, maka wujudnya, ia ikhlas dalam beramal, redha menerima kenyataan, penuh rasa syukur atas nikmat yang ada, sabar ketika menghadapi ujian dan istiqamah dalam berikhtiar. Bagaimana meraih ketentraman batin itu? Ternyata puncak segala keutamaan yang menghasilkan ketenangan batin itu terletak kepada seberapa tinggi tingkat pengenalannya kepada Allah . Semakin kokoh pengenalannya kepada Allah, kian mantap dan tentram serta mulialah orang tersebut. Contoh populer yang sering kita baca atau dengar. Ada seorang budak pengembala ternak milik tuannya. Tempat pengembalaannya disebuah lembah, jauh dari kota Madinah. Umar bin Khattab dalam perjalanan incognitonya menemui budak itu. Khalifah ke dua ini ingin mengetahui seberapa jauh pengenalannya kepada Allah. Ia berpura-pura ingin membeli. Ternyata sang budak itu tidak mau. Umar tetap membujuk dengan mengemukakan berbagai alasan bila pemilik ternak itu bertanya. Akhirnya sang budak berkata, "Okelah majikan saya tidak mengetahui. Tapi Rabb-Ku tetap melihat". Lalu bagaimana pengenalan kita terhadap Allah, dalam aktualisasi keseharian hidup kita ? Katakan, kita baru sendirian di masjid untuk menunggu waktu salat berjamaah. Tiba-tiba hidung kita gatal. Maaf, ketika di korek, ada kotorannya sebesar biji beras. Kalau pengenalan kita kepada Allah kuat, pasti kita tidak akan membuang benda itu di sela-sela sejadah atau di lantai. Tapi kita buang keluar. Kalau pengenalan kita kepada Allah kokoh, kita tentunya tidak akan membuang sampah sembarangan, walaupun orang tidak ada yang melihat dan tidak ada tulisan melarangnya. Kenapa ? Karena kita yakin, perbuatan itu tercela, mengotori jalan atau halaman. Bukankah Allah sangat memuji sikap seseorang yang menyingkirkan duri di jalan dengan niat tidak mencederai pemakai jalan. Atas perbuatan ini Dia berkenan menurunkan rahmat dan ampunan-Nya kepada sipelaku. Demikian dikisahkan Rasulullah SAW. Ketika salat tahajjud di rumah, pakaian kita, tertib salat kita, tartil bacaan salat, sama dengan ketika salat berjamaah di mesjid, maknanya pegenalan kita kepada Allah, bagus.Tapi kalau sebaliknya, ketika salat tahajjud, pakaian seadanya, kurang tertib, agak cepat ruku dan sujudnya, serta bacaan salatnya tidak tartil, berarti pengenalan kepada Allah masih kurang. Seorang karyawan satu kantor yang tetap gesit bekerja, tidak peduli apakah atasannya berada di tempat atau tidak, menandakan ia memiliki pengenalan kepada Allah yang baik. Diantara hasil pengenalan kepada Allah yang kokoh, maka orang itu akan selalu ikhlas dalam beramal. Kata Imam Ali bin Abi Thalib RA; "Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalanya diterima oleh Allah". Sedangkan buah dari orang yang ikhlas dalam beramal ia akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa. Kenapa begitu ? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapat pujian, penghargaan atau imbalan dari manusia. Kenikmatan bagi orang yang ikhlas bukan dari "mendapatkan", melainkan dari apa yang biasa ia "persembahkan". Contoh paling sederhana dari beramal yang ikhlas, laksana kita habis buang hajt,besar atau buang hajt kecil, merasa lega setelah melakukannya, dan tidak pernah memikirkan lagi barang yang kita keluarkan itu. Wallahualam. Oleh :Uti Konsen U.M. |
| Sari May 30, 2006 01:03 PM PDT Subhanallah, artikel mas fory bagus...Allah Akbar.. -Ukhti Sari- | ||
| Leave a Comment: |