Ajaran Islam tentang kasih
sayang telah lama di kumandangkannya dengan sempurna dan indah. Namun,
kebanyakan dari manusia tidak menyadari apa arti sesungguhnya dari
kasih sayang itu sendiri, sehingga dapat terhenti dan menyimpang dari
aturan-aturan yang telah di firmankan oleh Allah SWT dan sabda-sabda
Rasul-Nya.
Makna kasih sayang tidaklah berujung, sedangkan rasa kasih sayang
adalah sebuah fitrah yang mesti direalisasikan terhadap sesama
sepanjang kehidupan di dunia ini ada, tentunya dalam koridor-koridor
Islam. Ini berarti bahwa Islam tidak mengenal waktu, jarak, dan tempat
akan sebuah kasih sayang baik terhadap teman, sahabat, kerabat, dan
keluarganya sendiri. Rasulullah saw. bersabda, "Man laa yarhaminnaasa laa yarhamhullaah" Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya. (H.R. Turmudzi).
Dalam hadis tersebut kasih sayang seorang Muslim tidaklah terhadap saudara se-Muslim saja, tapi untuk semua umat manusia. Rasulullah
saw. bersabda, "Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian
mengasihi." Wahai Rasulullah, "Semua kami pengasih," jawab mereka.
Berkata Rasulullah, "Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang
salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi
bersifat umum (untuk seluruh umat manusia)." (H.R. Ath-Thabrani).
Bahkan, bukan hanya kepada manusia saja ajaran Islam yang tinggi ini
telah mengajarkan bagaimana kasih sayang terhadap hewan dan tumbuhan
yang harus direalisasikan. Abu Bakar Shiddiq r.a. pernah
berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid, "Janganlah kalian bunuh
perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan pula kalian kebiri
pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah.
Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah
mereka, jangan kalian ganggu." Sebuah nasihat ini walau
dalam keadaan untuk perang, ajaran Islam tetap memancarkan kasih
sayangnya terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan.
Sebuah kisah lain yang menarik ketika Amr bin Ash menaklukkan kota
Mesir, saat itu datanglah seekor burung merpati di atas kemahnya.
Melihat kejadian ini, kemudian Amr bin Ash membuat sangkar untuk
merpati tersebut di atas kemahnya. Tatkala ia mau meninggalkan
perkemahannya, burung dan sangkar tersebut masih ada. Ia pun tidak mau
mengganggunya dan dibiarkan burung merpati itu hidup bersama sangkar
yang ia buat. Maka kota itu dijuluki sebagai kota fasthath (kemah).
Jelaslah bahwa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi akan kasih
sayang. Kita perlu mencontoh teladan Nabi saw. dan para sahabatnya yang
benar-benar merealisasikan makna kasih sayang yang tanpa batas itu,
tentunya untuk mencapai keridaan Allah semata yang bukan untuk mencari
kesenangan dunia. Maka memang pantas bahwa Islam dikatakan sebagai
agama rahmatan lil 'alamiin.
Sifat kasih sayang adalah termasuk akhlak yang mulia yang dicintai
Allah. Sebaliknya Allah sangat membenci akhlak yang rendah. Di
antaranya kepada orang-orang yang tidak memiliki rasa belas kasih
sayang. Ditegaskan hadis Rasulullah saw., Laa tunza'ur rahmatu illaa min syaqiyyin. Rasa kasih sayang tidaklah dicabut melainkan hanya dari orang-orang yang celaka. (H.R. Ibn. Hibban).
Yang dimaksud dengan orang celaka adalah orang yang tidak memiliki rasa
kasih sayang di dalam hatinya baik untuk dirinya maupun orang lain.
Di sinilah perlunya kita bermuhasabah, bertafakur, apakah diri ini
sudah benar menjalani hidup. Bagaimana kita mengasihi dan menyayangi
ciptaan Allah sebagai akhlak yang mulia. "Sesungguhnya
Allah SWT Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah, dan Dia mencintai
akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah." (H.R. Na'im melalui Ibnu Abbas r.a.).
Di antara manusia banyak yang cinta dan mencintai Allah, tapi lebih
banyak yang mencintai dunia. Mencintai Allah adalah fardu bagi kaum
Muslimin dan Muslimat yang bukan sekadar dikata saja. Dan jika kita
benar-benar mencintai Allah secara kesungguhan hati, maka proses "rasa
kasih sayang" untuk makhluk ciptaan-Nya akan terbentuk dalam hati kita.
Selain itu, jati diri kita sebagai seorang Muslim akan tampak lebih
kokoh serta mampu menjalani syariat-syariat Islam yang diridai dan di
berkahi oleh Allah SWT.
Cinta kepada Allah adalah hal yang utama, sebagai jalan untuk
memperoleh kebaikan dunia dan akhirat dengan melaksanakan perintah-Nya,
menjauhi larangan-larangan-Nya. Cinta kepada Allah hendaklah melebihi
cinta kepada segala yang maujud yang selain Allah.
Mencintai
Allah berarti juga mencintai Rasul-Nya, yakni mengikuti segala petunjuk
Rasul dengan sepenuh-penuhnya. Firman Allah SWT, "Katakanlah (hai
Muhammad), 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Ali Imran [3]:31).
Ketahuilah, kehidupan akhirat adalah kehidupan yang lebih baik dan kekal.
Wallahu a'lam bishshawab.